Pentingnya Perencanaan Pendidikan yang Komprehensif

Pada kuliah semester satu program Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Islam Nusantara angkatan XXXIX yang baru berakhir Desember 2015 lalu, ada satu matakuliah yang benar-benar membuka wawasan saya mengenai kondisi pendidikan kita di tingkat nasional hingga daerah. Nama matakuliahnya Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional dan Daerah. Dosen pengampunya adalah Prof. DR. H. Abin Syamsudin Makmun, M.A. dan DR. H. Maman Suryaman, M.M.Pd.

Untuk memandu perkuliahan, digunakan buku berjudul Educational Planning karya Frank W. Banghart & Albert Trull. Jr. Ini buku terbitan tahun 1972 dan masih menjadi rujukan utama di bidang perencanaan pendidikan secara makro. Buku-buku lain bersifat melengkapi.

Matakuliah ini tidak mengajarkan tentang perencanaan pendidikan di level mikro, misalnya perencanaan pembelajaran di kelas-kelas sekolah atau perguruan tinggi. Yang dibahas dalam matakuliah ini adalah perencanaan pendidikan di tataran makro, mencakup penyelenggaraan sistem dan manajemen pendidikan dari tingkat nasional hingga daerah.

Jauh sebelum kuliah pun, rasanya saya sudah sering mendapat gambaran betapa aspek perencanaan di negeri ini sungguh kacau. Di kota Bandung misalnya, sebagai kota kelahiran saya sendiri, kondisi tata kota seperti yang dirancang oleh Belanda pada masa penjajahan sepertinya sudah berbeda jauh dengan apa yang terjadi di realitas sekarang. Seperti tidak ada perencanaan. Mungkin ada, karena toh ahli perencana kan banyak, tapi mungkin tidak dijadikan faktor penentu dalam pengambilan keputusan.

Dalam matakuliah Perencanaan Pembangunan Pendidikan Nasional dan Daerah itulah, saya dan teman-teman sekelas mendapat pencerahan dari buku karya Banghart dan Trull yang dikupas tuntas oleh kedua dosen pengampu, yang juga memiliki pengalaman riil di bidang perencanaan, sehingga setiap materi perkuliahan terasa begitu nyata, tidak sekadar kumpulan teori yang melayang di awang-awang.

Kami dikenalkan dengan pendekatan sistematis dan komprehensif terhadap perencanaan pendidikan, bahwa merencanakan pendirian satu bangunan sekolah pun sudah harus mempertimbangkan banyak faktor, di antaranya faktor politik, sosial, ekonomi, dan transportasi, selain faktor-faktor lain yang tak kalah penting. Mendirikan satu lembaga pendidikan di tingkat PAUD/TK, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, itu tetap harus menimbang begitu banyak data, mulai dari data kependudukan, data lokasi, data pergerakan manusia di tiap jam dan lokasi, data kondisi transportasi riil yang ada, data kemacetan, dan banyak lagi.

Di matakuliah ini pula, saya semakin mendapat penguatan pengetahuan tentang kenapa banyak lembaga pendidikan didirikan tapi lulusannya banyak yang menganggur. Salah satunya karena pendirian lembaga tersebut lebih kental unsur bisnisnya, kurang memperhitungkan faktor permintaan (kebutuhan) dari potensi lapangan kerjanya. Dan kalaupun memperhitungkan faktor tersebut, biasanya masih mengabaikan angka kebutuhannya. Jadi mentang-mentang ada kebutuhan, maka langsung saja didirikan sekolahnya sebanyak mungkin. Yang terjadi kemudian adalah banyaknya lulusan yang tidak tertampung bekerja di sektor tersebut. Misalnya sekolah kesehatan, yang berkorelasi dengan daya serap tenaga kerja di lingkungan kesehatan, misalnya dinas kesehatan dan rumah sakit serta Puskesmas.

Ternyata, ada banyak sekali ilmu dan pakar yang terlibat dalam menyusun perencanaan pembangunan pendidikan. Dan setiap menyusun perencanaan, biasanya dilakukan berbagai simulasi hingga mendapatkan rencana yang paling mendekati sempurna (karena tidak mungkin sempurna). Oleh karena itu dibutuhkan simulasi secara matang, dengan data-data yang riil dari berbagai bidang (demografi, transportasi, dll.), yang semuanya disusun dalam berbagai lapisan (layer), kemudian semua lapisan itu disatukan dan dijalankan, lalu dilihat apakah akan berjalan dengan baik atau tidak baik, apakah akan menimbulkan arus pergerakan manusia secara berimbang atau tidak, apakah akan menimbulkan kemacetan di satu titik perempatan tertentu atau bagaimana. Semua itu ternyata benar-benar harus diolah dan dijalankan untuk mendapatkan satu perencanaan yang baik. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, kecuali ingin hasilnya timpang dan ngawur.

Saya salut kepada para ahli perencana pembangunan kita. Saya tidak sangsi dengan kemampuan mereka dalam menyusun rencana. Saya maklum saja jika kondisi kota-kota di negeri ini masih terkesan semrawut. Karena saya paham, biasanya pendekatan keilmuan yang dibawa oleh para pakar ini mentah ketika berhadapan dengan kepentingan bisnis. Bahkan pihak eksekutif pun terkadang tidak bisa berbuat banyak jika legislatif lebih pro-kepentingan bisnis dalam memandang suatu rencana pembangunan kota. Sayangnya, mungkin itulah yang lebih banyak terjadi di negeri ini.

Leave a Reply