Ihwal Sekolah Sehari Penuh dan Kekerasan di Sekolah

Dua bulan ke belakang, rubrik pendidikan di media massa baik cetak maupun daring (online) diramaikan oleh pemberitaan seputar tiga perkara: tindak kekerasan oleh siswa atau orang tua siswa kepada guru, pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan wacana sekolah sehari penuh (full day school) yang dilontarkan oleh sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru.

Kasus kekerasan pada guru yang terakhir meramaikan pemberitaan adalah peristiwa yang dialami oleh guru SMAN 2 Makassar bernama Dasrul, yang dilaporkan mengalami pemukulan oleh Adnan Ahmad, orang tua siswa yang tidak terima dengan cara Dasrul mendisplinkan anaknya di sekolah.

Terlepas dari soal siapa yang benar dan yang salah, sontak saja berita pemukulan orang tua siswa kepada guru itu memancing perdebatan sengit, terutama di media sosial, ihwal kekerasan di sekolah, dan standar ganda yang kerap muncul. Selama ini, ada kesan bahwa guru boleh memukul siswa, atau melakukan kekerasan fisik dengan kadar tertentu yang dianggap wajar menurut kebiasaan di masyarakat, jika itu dilakukan untuk kepentingan mendisiplinkan siswa. Terutama ketika siswa itu membandel, masih tidak mau menurut meski sudah diingatkan berkali-kali. Terkesan, kekerasan dalam konteks seperti ini dianggap sah untuk dilakukan.

Di sisi lain, publik sepertinya kompak menilai bahwa orang tua atau wali murid yang melakukan kekerasan terhadap guru adalah perbuatan tercela. Pertanyaannya, mengapa kekerasan menjadi sah jika untuk alasan kedisplinan, tapi jadi tercela jika untuk membela anak? Apakah “baik” itu ditentukan oleh “niat” saja? Ataukah, “baik” itu terkait dengan dua faktor, yaitu “niat” dan “cara”?

Saya sangat menentang keras segala bentuk kekerasan di sekolah. Siapa pun pelakunya, siapa pun objek penderitanya, kekerasan di sekolah adalah salah. Tidak ada satu konsep pun, tidak ada satu teori pun, dalam dunia pendidikan sejak zaman pra-sejarah hingga kini, yang dapat menjadi pembenaran terhadap aksi kekerasan di sekolah. Termasuk jika alasannya adalah untuk mendidik murid, atau mendisiplinkan siswa. Apakah masih ada cara-cara lain yang bisa dilakukan dan tidak melibatkan kekerasan?

Tentu saja ada. Begitu mungkin jawabannya, jika kita menanyakan hal itu kepada Jim Fay dan David Funk. Dalam buku mereka yang berjudul Teaching with Love and Logic, mereka mengajukan pendekatan mengajar dengan hati dan logika, suatu pendekatan dengan teknik positif untuk mendisiplinkan kelas secara efektif dengan tetap mempertahankan suasana tenang, nyaman, sekaligus mengasyikkan. Berbagai ide dan strategi pengelolaan kelas yang mereka tawarkan itu semuanya berbasis penelitian, sehingga telah teruji dalam memberdayakan guru untuk secara efektif mengelola dinamika kelas serta menciptakan suasana belajar-mengajar yang penuh dengan kegembiraan, bagi guru dan muridnya.

Ada empat poin utama yang menonjol dari buku Teaching with Love and Logic itu. Pertama, rasa hormat, penghargaan, dan cinta dapat mencegah potensi masalah. Ketika siswa merasa dihormati, dihargai dan bahkan dicintai oleh guru, mereka jadi jauh lebih termotivasi untuk belajar dan masalah pun makin menjauh. Kedua, kebebasan untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan akan menumbuhkan motivasi. Siswa jauh lebih tenang dan lebih termotivasi ketika guru mendorong mereka untuk membuat pilihan dan memecahkan masalah mereka sendiri dalam batas-batas tertentu. Ketiga, memfokuskan energi pada pencegahan masalah adalah hal yang menguntungkan. Pendidik yang baik akan memfokuskan sebagian besar energi mereka pada hal-hal sederhana untuk mencegah kenakalan atau menjaga tingkat kenakalan itu agar tetap rendah. Bukan malah sibuk memberikan konsekuensi untuk setiap masalah yang timbul. Keempat, memperlihatkan empati dan kasih sayang adalah senjata efektif seorang guru. Ketika konsekuensi itu diperlukan, pendidik yang efektif akan menampilkan wajah tulus penuh empati dan kasih sayang. Bukan wajah seorang hakim menghukum terdakwa.

Dengan kata lain, kebiasaan mengajar dengan pendekatan reward and punishment ala Skinner dan juga Guthrie itu tampaknya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi kekinian masyarakat kita yang semakin kritis, dan sekaligus tertekan oleh berbagai himpitan masalah kehidupan yang kian sulit. Dalam kondisi yang begitu rumit, pada akhirnya yang diperlukan adalah pendekatan yang bisa menyentuh hati, merangkul jiwa dan rasa peserta didik.

Adapun mengenai wacana sekolah sehari penuh yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Muhadjir Effendy dan langsung menimbulkan polemik di masyarakat, saya berpandangan bahwa konsep itu masih terlalu jauh panggang dari api.

Konsep sekolah sehari penuh yang dilontarkan oleh Bapak Menteri itu akan membuat kegiatan belajar-mengajar di sekolah berlangsung selama 12 jam dengan dua hari libur dalam seminggu, yaitu Sabtu dan Minggu.

Bapak Menteri beralasan bahwa konsep sekolah sehari penuh itu baik karena akan membangun karakter siswa agar terhindar dari aktivitas mengerikan seperti tawuran atau penyimpangan lain, ketika sudah pulang sekolah sedangkan orang tua masih belum pulang ke rumah. Alasan berikutnya yang dikemukakan adalah agar orang tua yang bekerja tidak perlu repot-repot memikirkan dan mengawasi anak.

Sepintas, alasan itu seperti benar. Khususnya bagi para orang tua yang sibuk bekerja sampai sehari penuh. Namun di sisi lain perlu diingat bahwa tidak semua orang tua di negeri ini bekerja di sektor formal dan dengan jam kerja dari pagi hingga petang. Pernyataan Menteri tentang alasan kondisi keluarga yang bekerja menjadi tidak logis dan tidak relevan, karena masing-masing keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Oleh karena itu, hendaknya tidak ada penyamarataan bahwa sekolah sehari penuh itu bisa menyelesaikan masalah secara komprehensif terkait dengan kenakalan anak di luar jam sekolah dan masalah kesibukan orang tua.

Masih banyak orang tua yang salah satunya tidak bekerja, misalnya ibu yang menjadi ibu rumah tangga, atau ayah yang berhalangan untuk bekerja. Tentu saja ibu rumah tangga ini akan selalu ada di rumah, terlepas dari segala kesibukan seorang ibu rumah tangga, apakah sambil berdagang atau tidak. Ada juga tren lain yang kian populer saat ini, yaitu orang tua yang mencari nafkah dengan cara bekerja di rumah. Pekerjaan yang datang ke rumah. Bukan lagi pergi pagi pulang petang demi sesuap nasi. Orang tua yang seperti ini tentu punya lebih banyak kesempatan untuk bercengkerama bersama anak-anak mereka, sambil juga tetap memberikan perhatian penuh pada pekerjaannya.

Permasalahan lain juga muncul dalam hal ketidakseragaman lingkungan belajar di seluruh Indonesia. Konsep sekolah sehari penuh mungkin saja cocok diterapkan di beberapa sekolah perkotaan yang tingkat kesibukan kedua orang tuanya memang sangat tinggi. Dan mungkin cocok juga di sekolah berasrama yang semua kegiatan siswa dapat dipantau selama 24 jam dan memiliki fasilitas asrama serta pengasuh asrama. Tapi, apakah setiap kota dan kabupaten di Indonesia sudah seperti itu sarana dan prasarananya? Masih jauh. Hanya segelintir sekolah yang saat ini sudah sanggup menyelenggarakan sekolah sehari penuh tanpa menunggu instruksi kementerian. Itupun direncanakan secara matang dan tidak benar-benar sehari penuh. Kebanyakan tetap pulang sekolah sekitar pukul 14.00-15.00, dengan diselingi banyak istirahat untuk memberi kesempatan agar otak siswa tidak ngebul.

Alasan soal tawuran pun rasanya lebih banyak ngawurnya daripada benarnya. Tidak rasional. Coba saja perhatikan pemberitaan soal tawuran anak sekolah. Di kota/kabupaten mana, anak sekolah mana saja yang hobi tawuran itu? Sepengamatan saya, aksi tawuran anak sekolahan dilakukan oleh sebagian kecil saja siswa di Indonesia. Mayoritas tidak pernah tawuran. Bahkan tidak sempat terpikir untuk tawuran. Karena pulang sekolah pun pikiran mereka sudah langsung terbebani oleh tumpukan PR yang harus dikerjakan di rumah. Jadi jika alasannya untuk mencegah tawuran, maka itu hanya jadi solusi parsial bagi sekolah tertentu yang memang punya riwayat tawuran yang akut.

Di negeri ini, masih banyak persoalan pendidikan yang lebih urgen untuk segera diperbaiki, alih-alih malah mendorong kebijakan sekolah sehari penuh yang terkesan dipaksakan.

Saat ini, masih banyak anak sekolah di daerah pedalaman yang harus menempuh jarak ke sekolah sampai 5-10 kilometer (atau lebih) dan menghabiskan waktu sampai tiga jam. Tanpa program sekolah sehari penuh pun, anak-anak itu akan sampai ke rumah masing-masing paling cepat sore hari. Dan itu bukan karena mereka tawuran sepulang sekolah. Tapi karena jarak rumah dan sekolahnya sangat jauh. Terbayang, jika agenda sekolah sehari penuh itu benar-benar dilaksanakan, maka anak-anak itu akan pulang ke rumah malam hari. Kapan mau mengerjakan PR dan berinteraksi dengan teman-teman sekitar, juga dengan orang tuanya? Karena besok subuh pun sudah harus siap-siap berangkat ke sekolah lagi. Bagi mereka, sekolah sehari penuh itu justru akan menambah berat beban yang sudah berat. Bisa-bisa mereka jadi harus pergi subuh pulang tengah malam.

Kebhinekaan negeri ini tidak hanya terpancar dalam hal kesukuan dan keagamaan. Dalam hal pekerjaan dan kondisi ekonomi, keberagaman itu nyata adanya. Orang tua dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, banyak di antaranya yang meminta anaknya membantu mereka bekerja, tentu setelah sang anak pulang sekolah. Ada anak yang diajarkan oleh orang tuanya berbisnis dengan menjaga toko atau warung, berkebun di ladang, menangkap ikan di laut atau tambak, dan menggembala sapi di sawah. Ada juga yang menghabiskan sore hari bermain bersama teman-teman sebayanya di sekitar rumah. Penyeragaman konsep sekolah sehari penuh tidak akan efektif karena suasana, sarana-prasarana dan kebutuhan setiap keluarga itu berbeda.

Seperti apakah kondisi sarana dan prasarana fisik sekolah-sekolah di Indonesia? Apakah setiap sekolah sudah sebegitu nyamannya untuk didiami seharian penuh? Bukankah masih banyak sekolah yang atapnya sudah roboh, temboknya sudah miring-miring, sekolahnya libur jika hujan karena pasti kebanjiran, dan segala derita sekolah yang kondisi fisik bangunannya serba kekurangan. Di sekolah-sekolah seperti itu, sekolah setengah hari saja rasanya sudah penuh siksaan dan ingin cepat-cepat bunyi bel pulang berdentang, apalagi kalau harus seharian penuh. Bisa-bisa mereka pingsan berjamaah di sekolah.

Kalau mau sekolah sehari penuh, apakah ada kantin sehat gratis di sekolah? Kondisi ekonomi setiap anak tidak sama. Bagi yang punya uang banyak, gampang saja tinggal jajan atau beli makanan apa pun yang disukai. Bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, mereka mau makan apa? Kecuali pihak sekolah bersedia menyediakan bekal makan siang gratis atau jajanan untuk siswa sampai sore hari.

Selain lingkungan fisik sekolah yang menyenangkan, keberadaan guru yang kreatif dan interaktif juga sangat krusial. Padahal kenyataannya, sangat sedikit guru dan lingkungan sekolah yang mampu memotivasi siswa agar betah berlama-lama di sekolah. Coba saja perhatikan jika ada pengumuman rapat guru, para siswa akan sangat senang karena tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Ini indikasi bahwa sebagian besar kegiatan belajar-mengajar itu menjemukan, tidak menarik bagi siswa. Sehingga mereka lebih suka gurunya rajin rapat daripada rajin mengajar.

Bukan hanya bagi siswa. Penderitaan sekolah sehari penuh juga pastinya akan dirasakan oleh para guru. Guru pun akan ikut-ikutan pulang sore, dan mungkin sebagian lagi sampai ke rumah pada malam hari. Di rumah, mereka sibuk urusan rumah tangga, dan pasti sulit mempersiapkan materi pelajaran esok hari, karena pagi-pagi sudah harus berangkat ke sekolah lagi. Lalu kapan ada waktu bagi mereka untuk memeriksa dan memberikan umpan balik bermutu pada tugas yang dikerjakan siswa?

Tentu saja, secara konsep, sekolah sehari penuh ini tidak salah-salah amat. Hanya situasi dan kondisi di Indonesia saja yang, menurut hemat saya, belum memungkinkan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Sebaiknya, seseorang selevel menteri melakukan kajian mendalam, untuk mempelajari konsep sekolah sehari penuh itu beserta segala prasarat dan faktor-faktor pendukungnya. Masalah fisik sekolah, sarana-prasarana pendidikan, ketersediaan dan kecakapan guru, konsep pembagian waktu belajar dan waktu istirahat selama di sekolah, pembelajaran yang atraktif dan dinamis, semua itu seharusnya menjadi PR Bapak Menteri, sebelum bicara ke publik dengan gagasan yang masih mentah.

Saya rasa kita semua akan setuju bahwa sekolah tidak boleh menjauhkan anak dari orang tua. Jadi kalau mau sekolah sehari penuh pun, harus dipikirkan bagaimana caranya agar orang tua tetap terlibat dalam upaya mendidik dan membina anak-anaknya. Jangan ada kesan bahwa sekolah adalah tempat penitipan anak.

Tahun lalu saya berkesempatan untuk mampir ke Bappenas dan menyimak paparan Bappenas tentang agenda pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 Bidang Pendidikan. Dalam dokumen yang merupakan turunan dari visi Nawacita Presiden Jokowi itu, ada sepuluh langkah strategis yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

  1. Pelaksanaan Program Indonesia Pintar melalui Wajib Belajar 12 Tahun
  2. Peningkatan Kualitas Pembelajaran
  3. Peningkatan Manajemen Guru, Pendidikan Keguruan, dan Reformasi LPTK
  4. Peningkatan Akses, Kualitas, Relevansi dan Daya Saing Pendidikan Tinggi
  5. Peningkatan Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini
  6. Peningkatan Keterampilan Kerja dan Penguatan Pendidikan Orang Dewasa
  7. Peningkatan Pendidikan Keagamaan
  8. Peningkatan Pendidikan Agama, Pendidikan Kewargaan dan Pendidikan Karakter untuk Mendukung Revolusi Mental
  9. Peningkatan Efisiensi Pembiayaan Pendidikan
  10. Peningkatan Tata Kelola Pendidikan.

Saya pikir, ini konsep yang sangat bagus. Tantangannya biasanya di sektor implementasi (seperti biasa). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebaiknya memfokuskan segala daya upaya, menggerakkan seluruh elemen pendidikan agar bekerja dengan rapi dan giat untuk merealisasikan cita-cita dalam sepuluh rencana strategis di atas. Itu jauh lebih bermakna dan bermanfaat ketimbang mendorong pelaksanaan sekolah sehari penuh secara nasional. Dan jika semua itu benar-benar terwujud (sulit sih, tapi pasti bisa), saya yakin tidak akan ada lagi kasus-kasus kekerasan di sekolah, baik itu yang dilakukan oleh guru maupun yang menimpa pada guru.

5 Replies to “Ihwal Sekolah Sehari Penuh dan Kekerasan di Sekolah”

  1. Sekarag mah engajar dibuat simpel aja. Daripada berurusan dengan polisi atas sesuatu yang sebetulnya demi masa depan, mendingan menyelesaikan kewajiban mengajar saja. Soal moral dikembalikan ke orang tuanya. Mungkin itulah realita kemunduran masa depan bangsa kita

  2. patut dicatat bahwa sekolah itu bukan hanya perkara mengisi otak dengan ilmu, tapi juga pengembangan pola pikir dan pembinaan karakter. Jadi menurut saya adalah salah apabila orangtua protes terhadap cara didikan gurunya dengan cara membabi buta. Dan adalah salah juga jika anak selalu dibela terus oleh orangtuanya tanpa memperhatikan kejelasan permasalahannya. Dan say arsa full day school tidaklah relevan, sebab pembinaan karakter itu bukan hanya di sekolah saja, akan tetapi di rumha dan peran orang tua pun sangatlah penting.

Leave a Reply