Dosen Tembak

Mumpung masih hangat soal aksi teroris di Thamrin Jakarta kemarin, mari kita bincang sedikit tentang tembak-tembakan.

Di dunia perangkotan di Bandung dan sekitarnya, dan juga mungkin di daerah Anda, ada istilah “supir tembak”, yaitu supir yang bekerja menggantikan “supir resmi” dari sebuah angkutan kota (angkot) di trayek tertentu. Adapun supir resmi maksudnya supir yang memang mendapat mandat langsung dari pemilik angkot untuk menjalankan usaha ngangkotnya.

Di dunia perdosenan, saya juga pernah menjadi “dosen tembak”, yaitu menjadi pemeran pengganti dari dosen yang di atas kertas seharusnya mengajar di satu dan beberapa matakuliah di satu dan beberapa perguruan tinggi/universitas. Kita tahu, idealnya yang mengajar di kelas S1 adalah dosen yang sudah lulus S2, yang mengajar di kelas S2 harus yang sudah bergelar S3. Tetapi, biasanya setiap dosen sudah padat dengan jadwal mengajar dan segala tugas jabatan di kampus. Karena itu, daripada kelas kosong tidak ada yang mengajar ditunjuklah orang lain untuk menjadi “dosen tembak”, yang di kampus-kampus tertentu diresmikan dengan istilah asisten dosen.

Ada juga dosen tembak dalam makna lain. Hari-hari perkuliahan di tiap semester dibuat mudah dan memudahkan, tidak ribet ini-itu tugas. Ada tugas, tapi tugas pun yang mudah-mudah saja. Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester tetap ada, tapi juga tidak sulit. Pada akhir semester, di papan pengumuman dan di situs web kampus tertera pengumuman tentang sudah keluarnya nilai matakuliah tersebut. Isinya, dari 30 mahasiswa yang mengikuti matakuliah itu, semuanya mendapat nilai A. Mungkin memang semua mahasiswa itu sama pandainya. Mungkin karena semua tugas dan ujian sama mudahnya. Mungkin juga karena dosen itu tidak mau repot-repot menyusun gradasi tingkat kesulitan tugas dan soal ujian, sehingga semua serba dipermudah. Mungkin juga tidak mau repot-repot menghitung besaran hasil tugas dan ujian serta persentase kehadiran, jadi semua diberi nilai yang sama. Apalagi jika sistem penilaian masih manual.

Yang kasihan dan patut disayangkan adalah “dosen ditembak”. Ini adalah dosen yang secara halus dipaksa untuk memberikan nilai tertentu, walaupun mahasiswanya tidak pantas mendapat nilai tersebut. Katakanlah di sebuah kampus, yang konsep berpikirnya “mahasiswa mau bayar SPP dan mau kuliah juga sudah suatu prestasi”, ada kejadian mahasiswa malas mengumpulkan tugas, mahasiswa jeblok saat ujian tengah dan akhir semester. Singkat cerita, dengan memperhatikan minimnya persentasi kehadiran, dikombinasi dengan nilai tugas dan nilai UTS/UAS, maka nilai terbaik yang bisa diberikan oleh sang dosen kepada (sebagian) mahasiswa tersebut adalah E. Kalau mau berbaik hati, bolehlah diberi D, itupun mengingat kehadirannya di atas 50%. Akan tetapi, pihak manajemen kemudian meminta “kebijaksanaan” sang dosen untuk berkenan memberi nilai yang lebih baik, misalnya B atau A. Tidak ada pertimbangan apa-apa, pokoknya disarankan agar (sebagian) mahasiswa itu diberi nilai yang lebih baik, dan diluluskan dalam matakuliah tersebut. Nah ini contoh “dosen ditembak.”

Kalau blogger tembak, kira-kira ada gak ya? 😀

3 Replies to “Dosen Tembak”

Leave a Reply