Asus ZenBook UX305FA, Mitra Kerja Penerjemah yang Andal dan Tepercaya

Sebagai penerjemah lepas, memiliki komputer yang dapat diandalkan adalah suatu keniscayaan. Tidak perlu secanggih komputer atau laptop untuk keperluan gaming. Untuk saya yang banyak bekerja dengan menggunakan CAT Tools, komputer/laptop berprosesor Intel i3 atau sekelasnya rasanya sudah sangat cukup. Lebih baik lagi jika memiliki RAM besar, minimal 4GB, misalnya.

Dulu, saya lama menggunakan laptop Asus U36. Bodi tipis, layar 13.6″, baterai bisa dipakai kerja selama kurang-lebih 6-8 jam, lalu RAM saya upgrade ke 8GB. Itu sudah amat mantap untuk diajak bekerja menggunakan berbagai CAT Tools seperti SDL Trados Studio, MemoQ, WordFast, dll.

Setelah sekitar 4 tahun menggunakan Asus U36 itu, pada akhir Agustus 2015 saya merasa perlu melakukan peremajaan “alat tempur” penerjemahan. Setelah cukup lama berburu dan memilah berbagai pilihan yang ada, sampailah akhirnya pilihan itu jatuh ke Asus ZenBook UX305FA.

Pilihan ini bukan soal tampilan laptopnya yang terlihat gaya dan keren, karena bobotnya yang ringan dan ketipisannya mirip dengan MacBook Air. Sama seperti alasan dulu memilih Asus U36, saya memilih Asus ZenBook UX305FA karena bodi yang tipis, baterai yang bisa tahan lama, dan RAM yang 4GB (konon bisa ditingkatkan hingga ke 8GB, tapi belum saya lakukan). Ada juga ZenBook UX305 versi lebih baru yang dari sananya sudah terpasang RAM 8GB.

Laptop model ultrabook dengan karakteristik seperti itu sangat cocok untuk saya, yang tergolong sering bepergian hampir setiap hari, mengantar istri atau keluarga ke tempat-tempat tertentu di Bandung, sesuai tujuan masing-masing. Dengan laptop model begini, saya bisa nyaman bekerja di tempat parkir, atau mampir ke kafe terdekat untuk sekadar memesan minuman segar dan camilan ringan untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus dikirimkan hari itu, atau untuk sekadar mencicil pekerjaan demi memenuhi target jumlah kata/halaman per hari.

Saya pernah punya laptop berlayar lebar, repotnya bukan main ketika bepergian. Saya pernah punya MacBook Air edisi 2014 yang saya beli pada Maret 2015 untuk keperluan suatu proyek yang secara spesifik perlu MacBook, tapi saya merasa tidak optimal ketika memakai MacBook yang dipasangi VMWare untuk bisa menjalankan Windows. MacBook Air itu sangat bagus, enak dan nyaman digunakan. Tapi ketika dipasangi Windows, karena hampir semua CAT Tools andalan hanya bisa berjalan di Windows, lalu setiap harinya saya bekerja hampir selalu menggunakan OS Windows, maka saya merasa aspek MacBook Air-nya jadi tidak terasa optimal. Tidak lama setelah proyek ber-MacBook itu selesai, saya juga lagi saja, dan hasil penjualannya jadi Asus ZenBook.

Sejak pembelian, Asus ZenBook ini sudah terpasang Windows 8.1. Saya aktifkan fitur auto-update, sampai bisa terpasang Windows 10. Dibandingkan saat menggunakan Windows 8, saya merasakan kinerja dan pengalaman kerja dengan Asus ZenBook lebih baik dengan Windows 10. Terasa sekali perbahan yang terjadi dengan adanya pergantian sistem operasi.

Laptop ini semakin nyaman digunakan, karena tidak berkipas dan sudah menggunakan Solid State Drive. Keuntungannya tentu sistem baca-tulis pada hard drive jadi lebih cepat, booting pun terasa kilat, dan tidak perlu repot mematikan laptop saat memasukannya ke tas, karena tidak akan panas.

Dengan ZenBook ini, saya juga masih bisa memainkan Football Manager 2016 dan Pro Evolution Soccer 2016. Bagi saya, cukup dua itulah game yang terpasang di laptop. Itu pun baru bisa dimainkan saat benar-benar tidak ada deadline pekerjaan atau urusan tugas kuliah.

Jika ada hal yang saya keluhkan dari laptop ini adalah cukup seringnya kejadian layar tiba-tiba nge-blank hitam, lalu pulih kembali disertai munculnya notifikasi di pojok kanan bawah: “Display driver has stopped responding”. Kendala ini sudah saya alami sejak masih pakai Windows 8. Sudah update BIOS, update driver VGA, masih seperti itu. Saya cari tahu penyebab masalahnya di forum-forum, saya amati lagi setelah pakai Windows 10 dan ternyata masih juga muncul meski tidak sering. Kejadian ini sering muncul jika laptop dalam posisi bertenaga baterai. Jika charger dalam posisi aktif menyala, tidak pernah ada peristiwa ini. Dari berbagai pengalaman pengguna di dalam dan luar negeri, sepertinya kesimpulan terkuat adalah faktor bawaan perangkat keras. Artinya solusinya harus datang dari Asus sebagai pihak produsen laptopnya. Sayangnya sampai saya membuat tulisan ini, rasanya belum ada upaya perbaikan atau driver update dari Asus yang bisa menyelesaikan persoalan ini.

Dari tautan di sini, akhirnya saya menemukan salah satu kemungkinan penyebab masalah ini adalah fitur hardware acceleration pada peramban web yang digunakan. Ini karena banyak pengguna yang mengalami masalah tersebut saat menggunakan peramban web Chrome atau Firefox. Memang belum ada yang bisa memastikan bahwa itulah masalah dan solusinya. Tapi setidaknya, setelah saya menonaktifkan fitur hardware acceleration, sejauh ini saya belum pernah lagi mengalaminya.

2 Replies to “Asus ZenBook UX305FA, Mitra Kerja Penerjemah yang Andal dan Tepercaya”

  1. Masih senang pakai komputer besar. 😀
    Jangan-jangan laptop ini yang dibawa kemarin.

    Oh yah Kang, kalau perkiraan saya itu penyebabnya lantaran kurang listirk/daya.
    Dia blank hitam waktu laptop gak dicolokin ke listrik. Coba aja liat inidkator baterainya waktu di berapa persen. Trus layar berwana hitam waktu buka firefox atau chrome. Dua penjelajah ini menyedot porsi memory besar. Memori kerja keras, trus butuh tenaga listrik.

    Kejadian ini hampir sama dengan PC saya yang sekarang ini. Dia restart sendiri kalau pasa kerja keras. Setelah diselediki, ternyata besar kemungkinan penyebab utamanya masukan listrik kurang. Minta ganti Powers Supply.

    Trus walau lebih enakan Win 19, tetap aja ‘mungkin’ OS win 10 tetap membutuhkan tenaga lebih besar dibandingkan waktu pakai Win 8. Saya masih tetap pakai win 7 versi petani. 😀

Leave a Reply