Masalah Status In Review pada SDL Trados Studio 2011

Anda yang menggunakan SDL Trados Studio 2011 mungkin pernah mengalami masalah ini. Ketika menyimpan berkas dalam suatu proyek setelah menerjemahkannya hingga 100%, mendadak muncul status In Review pada bagian File Overview. Indikator juga menunjukkan 0%, padahal sudah diterjemahkan seluruhnya. Ketika berkas dibuka, semua segmen diperiksa, semuanya sudah berstatus Translated, tidak ada yang statusnya Approved.

Hal ini tidak akan jadi masalah jika Anda mengirimkannya kepada klien atau agensi pemberi kerja. Tapi mungkin memang terasa mengganggu karena terkesan Anda melakukan kesalahan. Padahal ketika berkas dibuka, sebetulnya semua sudah berhasil Anda terjemahkan.

Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Tapi inilah yang saya lakukan saat masalah itu muncul.

Cara 1

  1. Hapus berkas dari project.
  2. Masukkan lagi berkas ke dalam project.
  3. Jalankan proses pre-translate.
  4. Berkas akan berstatus Translated dengan kondisi 100%.

Cara 2

  1. Buka berkas yang bermasalah.
  2. Klik kanan pada salah satu segmen dan ubah statusnya menjadi draft, lalu simpan kembali berkas tersebut. Ini akan mengembalikan status ke In Translation dan kondisi 99%.
  3. Buka kembali berkas tersebut dan ubah status segmen draft tadi jadi Translated, lalu simpan berkas. Ini akan membuat berkas berstatus Translated dan 100%, dan tidak akan ada masalah match values.

Cara 3

Pilih berkas yang bermasalah dan jalankan proses Translation Count Batch Task dengan langkah Project > Batch Tasks > Translation Count. Ini akan mengoreksi hitungan dan sekaligus statusnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan untuk menghindari masalah ini adalah di bagian create new project. Saat membuat proyek baru, di bagian bawah layar, pastikan Anda memilih Use the original translation origin and status, jangan pilih Apply Perfect Match and lock. Dalam hal ini, segmen Perfect Match yang dalam kondisi locked akan membuat sistem membaca segmen tersebut dalam status telah reviewed, sehingga sistem akan membaca segmen lain sebagai in review.

Perjalanan dan Modal Saya Jadi Penerjemah Profesional

Meski sama-sama berprofesi sebagai penerjemah, biasanya setiap orang punya latar belakang dan jalan masing-masing yang mengantarnya jadi penerjemah. Coba saja baca buku Tersesat Membawa Nikmat, sebuah buku bunga rampai pengalaman anggota milis Bahtera dalam menapaki karier sebagai penerjemah dan juru bahasa. Jika ditanya apa sebabnya saya jadi penerjemah, maka jawaban saya adalah bakat, alias bakat ku butuh (Bahasa Sunda yang artinya saking butuhnya).

Saya masuk kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Bandung (lalu berubah nama jadi Universitas Pendidikan Indonesia) pada tahun 1998. Menginjak tahun kedua, sekitar tahun 2000, saya mulai mengerjakan pekerjaan terjemahan, dengan membantu kakak-kakak senior. Kliennya dari dalam kampus, mulai dari sesama mahasiswa S1 hingga mahasiswa S2 dan S3 yang perlu menerjemahkan materi atau tugas perkuliahan. Waktu itu, mendapat bayaran Rp3.000-5.000 per halaman hasil saja rasanya sudah girang sekali. Untuk seorang anak kos saat itu, penghasilan dari menerjemahkan 10 halaman sehari saja sudah cukup jadi bekal untuk makan sehari.

Saat itu juga ada sebuah biro terjemahan sederhana di Gegerkalong yang memasang pamflet lowongan kerja. Saya melamar dan diterima jadi “editor”, katanya. Ternyata, pekerjaan saya adalah mengedit hasil terjemahan dengan alat bernama Transtool. Bayaran saya waktu itu hanya Rp1.000 per halaman yang diedit. Itu sekaligus perkenalan pertama saya dengan Transtool. Meski deskripsi tugasnya adalah mengedit, faktanya saya lebih sering menerjemahkan ulang, karena rendahnya kualitas terjemahan oleh Transtool.

Merasa percaya diri karena sering menerjemahkan artikel jurnal, makalah, dan buku yang digunakan untuk perkuliahan, saya memberanikan diri untuk mengirim lamaran menjadi penerjemah lepas ke berbagai penerbit. Saya punya koleksi buku di kosan. Saya catat nama dan alamat penerbit. Saya kirim lamaran. Sesederhana dan senekad itulah saya waktu itu, sekitar tahun 2003.

Pada tahun 2003 itu pula saya berhasil menulis buku dan diterbitkan oleh sebuah penerbit di Bogor. Buku karya saya sendiri. Cara menulisnya sebenarnya lebih banyak diawali oleh menerjemahkan berbagai artikel dan buku yang memiliki kesamaan tema, lalu setiap gagasan dan kutipan itu dikumpulkan dan disusun dalam urutan ide yang mengalir, sambung-menyambung sehingga menjadi satu naskah buku. Saya tawarkan ke beberapa penerbit. Ada satu penerbit yang menyambut baik. Transaksi jual putus naskah pun terjadi. Selesai. Buku itu terbit. Uang pertama hasil menulis saya kantongi. Bangganya bukan main. Maklum, saat itu saya masih jadi mahasiswa, dan saya pernah bertekad: tidak mau lulus kuliah sebelum bisa menulis buku yang diterbitkan oleh penerbit resmi dan ada ISBN-nya. Cita-cita yang aneh mungkin ya, tapi alhamdulillah tercapai juga.

Pada tahun 2004, buku terjemahan pertama saya terbit. Sama seperti buku karya pribadi, buku terjemahan ini juga diterbitkan oleh penerbit di Bogor, tapi beda penerbit. Sejak saat itu, hari-hari saya padat diisi oleh kegiatan kuliah, menerjemahkan buku, menulis dan mengedit buku ajar bahasa Inggris untuk SD, SMP, SMA/SMK. Memang tidak terlalu banyak, tapi rasanya cukup banyak untuk ukuran mahasiswa yang belum lulus S1. Sejak 2003 hingga 2013, total ada 11 buku pelajaran yang saya tulis bersama teman-teman penulis, dan ada 27 buku terjemahan yang semuanya diterbitkan oleh penerbit resmi dan ber-ISBN. Tarif saya untuk menerjemahkan buku pada saat itu berkisar antara Rp10.000-15.000 per halaman hasil.

Selain buku, saat itu saya juga rutin menerjemahkan untuk edisi bahasa Indonesia dari sebuah majalah filantropi global yang terbit setiap bulan. Untuk majalah ini, saya mendapat bayaran Rp30.000 per halaman hasil.

Baru tahun 2011 saya menginjakkan kaki ke pasar penerjemahan non-buku dan non-majalah. Itu terjadi ketika saya mulai lebih aktif di milis Bahtera, setelah sekian lama jadi pembaca diam (silent reader), dan menjadi anggota Himpunan Penerjemah Indonesia. Di sini saya merasakan ada lompatan karier yang luar biasa, terutama dalam hal variasi pekerjaan penerjemahan dan tarifnya. Pada tahun yang sama, saya memoles profil saya di Proz dan menjadi anggota berbayar, setelah sejak 2007 hanya jadi anggota non-berbayar. Saat itulah saya mulai mengenal proyek-proyek penerjemahan non-buku, pelokalan (localization) situs web, aplikasi seluler, aplikasi komputer, dan sebagainya, yang dulu tidak terbayangkan akan saya kerjakan. Bahkan dulu saya tidak terpikir sama sekali bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah bagian dari industri terjemahan global. Saya merasa bersyukur sekali bisa bergabung dengan milis Bahtera dan HPI. Pergaulan dan wawasan terasa semakin luas, ilmu juga bertambah, pekerjaan penerjemahan semakin variatif, dan honor juga jauh meningkat jadi USD0.05 atau Rp500 per kata sumber.

Jika ditanya, apa modal saya untuk jadi penerjemah? Saya mungkin akan menyoroti 5 hal ini:

  1. kemampuan berbahasa Inggris,
  2. kemampuan berbahasa Indonesia,
  3. kebiasaan membaca,
  4. keterampilan komputer (perangkat keras dan perangkat lunak),
  5. kebiasaan meriset.

Bisa berbahasa Inggris saja tidak cukup membuat seseorang bisa menerjemahkan. Harus ada penguasaan bahasa Indonesia yang baik untuk membuat seseorang mampu menerjemahkan dengan baik. Hal ini karena menerjemahkan bukanlah sekadar mengganti kata per kata dalam bahasa sumber dengan kata per kata dalam bahasa target. Penguasaan bahasa Inggris yang baik diperlukan untuk menangkap maksud penulis dalam bahasa sumber. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik diperlukan untuk menyampaikan kembali maksud penulis bahasa sumber itu ke dalam bahasa target sesuai dengan kaidah bahasa target.

Penguasaan bahasa Indonesia yang baik biasanya muncul dengan sendirinya jika kita sudah memiliki kebiasaan membaca yang baik. Alhamdulillah, saya dibesarkan dalam keluarga yang memiliki budaya baca yang baik, menurut ukuran zaman saya kecil saat itu. Saya anak ketujuh dari delapan bersaudara. Sejak kecil saya sudah terbiasa membaca karena di rumah ada koran Pikiran Rakyat, Kompas, tabloid Bola, majalah Tempo, Bobo, Siswa, Kawanku, Gadis, Femina, dan majalah Hai. Selain koran dan majalah, buku-buku seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Wiro Sableng, Lupus, Agatha Christie, dan lain-lain juga ada di rumah dan menjadi buku-buku yang langganan dibaca. Saya percaya bahwa kebiasaan membaca sejak kecil membantu seseorang menguasai tata bahasa dan membantu keterampilan menulis.

Keterampilan komputer saya peroleh dari kebiasaan membaca majalah dan tabloid komputer seperti (saat itu) PC Media, PC Plus, dan Chip. Untuk kebiasaan ngoprek dan ngulik, saya terbantu oleh kebiasaan nongkrong di rental komputer yang biasanya juga membuka layanan perbaikan komputer. Memperhatikan dan membantu teknisi komputer bekerja, ditambah pengetahuan hasil bacaan, secara kumulatif membentuk pemahaman saya tentang komputer, baik untuk perangkat keras maupun perangkat lunak. Saya merasa ini sangat membantu ketika saya masuk ke pasar terjemahan global, khususnya ketika saya harus menggunakan CAT Tool seperti Trados, SDL Trados Studio, SDLX, WordFast, MemoQ, dan lain-lain. Ini juga membantu dalam proyek-proyek pelokalan perangkat lunak dan aplikasi seluler.

Kebiasaan meriset saya tumbuh karena ada kebiasaan membaca. Saya jadi selalu penasaran jika ada hal yang belum saya tahu. Saya selalu ingin tahu, tapi bukan ingin tahu urusan orang alias kepo itu ya. Saya serba ingin tahu untuk hal-hal yang bersifat keilmuan, pengetahuan, dan wawasan. Kalau ada hal yang saya belum tahu, bisa dipastikan saya akan mencari tahu, meski itu secara diam-diam, dan hasilnya pun tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain. Sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu pribadi saja rasanya sudah cukup bagi saya. Dalam praktik penerjemahan, kebiasaan meriset ini sangat penting dan sangat diperlukan untuk menghasilkan terjemahan dengan kualitas yang baik.

Begitulah cara saya menjadi penerjemah. Ini bukan satu-satunya cara, tentu saja. Anda pun mungkin punya cara dan perjalanan karier yang berbeda. Semoga ini juga bisa menjawab pertanyaan sebagian teman-teman yang ingin memulai karier jadi penerjemah tapi masih bingung harus memulai dari mana.

Ihwal Sekolah Sehari Penuh dan Kekerasan di Sekolah

Dua bulan ke belakang, rubrik pendidikan di media massa baik cetak maupun daring (online) diramaikan oleh pemberitaan seputar tiga perkara: tindak kekerasan oleh siswa atau orang tua siswa kepada guru, pergantian Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan wacana sekolah sehari penuh (full day school) yang dilontarkan oleh sang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru.

Kasus kekerasan pada guru yang terakhir meramaikan pemberitaan adalah peristiwa yang dialami oleh guru SMAN 2 Makassar bernama Dasrul, yang dilaporkan mengalami pemukulan oleh Adnan Ahmad, orang tua siswa yang tidak terima dengan cara Dasrul mendisplinkan anaknya di sekolah.

Terlepas dari soal siapa yang benar dan yang salah, sontak saja berita pemukulan orang tua siswa kepada guru itu memancing perdebatan sengit, terutama di media sosial, ihwal kekerasan di sekolah, dan standar ganda yang kerap muncul. Selama ini, ada kesan bahwa guru boleh memukul siswa, atau melakukan kekerasan fisik dengan kadar tertentu yang dianggap wajar menurut kebiasaan di masyarakat, jika itu dilakukan untuk kepentingan mendisiplinkan siswa. Terutama ketika siswa itu membandel, masih tidak mau menurut meski sudah diingatkan berkali-kali. Terkesan, kekerasan dalam konteks seperti ini dianggap sah untuk dilakukan.

Di sisi lain, publik sepertinya kompak menilai bahwa orang tua atau wali murid yang melakukan kekerasan terhadap guru adalah perbuatan tercela. Pertanyaannya, mengapa kekerasan menjadi sah jika untuk alasan kedisplinan, tapi jadi tercela jika untuk membela anak? Apakah “baik” itu ditentukan oleh “niat” saja? Ataukah, “baik” itu terkait dengan dua faktor, yaitu “niat” dan “cara”?

Saya sangat menentang keras segala bentuk kekerasan di sekolah. Siapa pun pelakunya, siapa pun objek penderitanya, kekerasan di sekolah adalah salah. Tidak ada satu konsep pun, tidak ada satu teori pun, dalam dunia pendidikan sejak zaman pra-sejarah hingga kini, yang dapat menjadi pembenaran terhadap aksi kekerasan di sekolah. Termasuk jika alasannya adalah untuk mendidik murid, atau mendisiplinkan siswa. Apakah masih ada cara-cara lain yang bisa dilakukan dan tidak melibatkan kekerasan?

Tentu saja ada. Begitu mungkin jawabannya, jika kita menanyakan hal itu kepada Jim Fay dan David Funk. Dalam buku mereka yang berjudul Teaching with Love and Logic, mereka mengajukan pendekatan mengajar dengan hati dan logika, suatu pendekatan dengan teknik positif untuk mendisiplinkan kelas secara efektif dengan tetap mempertahankan suasana tenang, nyaman, sekaligus mengasyikkan. Berbagai ide dan strategi pengelolaan kelas yang mereka tawarkan itu semuanya berbasis penelitian, sehingga telah teruji dalam memberdayakan guru untuk secara efektif mengelola dinamika kelas serta menciptakan suasana belajar-mengajar yang penuh dengan kegembiraan, bagi guru dan muridnya.

Ada empat poin utama yang menonjol dari buku Teaching with Love and Logic itu. Pertama, rasa hormat, penghargaan, dan cinta dapat mencegah potensi masalah. Ketika siswa merasa dihormati, dihargai dan bahkan dicintai oleh guru, mereka jadi jauh lebih termotivasi untuk belajar dan masalah pun makin menjauh. Kedua, kebebasan untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan akan menumbuhkan motivasi. Siswa jauh lebih tenang dan lebih termotivasi ketika guru mendorong mereka untuk membuat pilihan dan memecahkan masalah mereka sendiri dalam batas-batas tertentu. Ketiga, memfokuskan energi pada pencegahan masalah adalah hal yang menguntungkan. Pendidik yang baik akan memfokuskan sebagian besar energi mereka pada hal-hal sederhana untuk mencegah kenakalan atau menjaga tingkat kenakalan itu agar tetap rendah. Bukan malah sibuk memberikan konsekuensi untuk setiap masalah yang timbul. Keempat, memperlihatkan empati dan kasih sayang adalah senjata efektif seorang guru. Ketika konsekuensi itu diperlukan, pendidik yang efektif akan menampilkan wajah tulus penuh empati dan kasih sayang. Bukan wajah seorang hakim menghukum terdakwa.

Dengan kata lain, kebiasaan mengajar dengan pendekatan reward and punishment ala Skinner dan juga Guthrie itu tampaknya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi kekinian masyarakat kita yang semakin kritis, dan sekaligus tertekan oleh berbagai himpitan masalah kehidupan yang kian sulit. Dalam kondisi yang begitu rumit, pada akhirnya yang diperlukan adalah pendekatan yang bisa menyentuh hati, merangkul jiwa dan rasa peserta didik.

Adapun mengenai wacana sekolah sehari penuh yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Muhadjir Effendy dan langsung menimbulkan polemik di masyarakat, saya berpandangan bahwa konsep itu masih terlalu jauh panggang dari api.

Konsep sekolah sehari penuh yang dilontarkan oleh Bapak Menteri itu akan membuat kegiatan belajar-mengajar di sekolah berlangsung selama 12 jam dengan dua hari libur dalam seminggu, yaitu Sabtu dan Minggu.

Bapak Menteri beralasan bahwa konsep sekolah sehari penuh itu baik karena akan membangun karakter siswa agar terhindar dari aktivitas mengerikan seperti tawuran atau penyimpangan lain, ketika sudah pulang sekolah sedangkan orang tua masih belum pulang ke rumah. Alasan berikutnya yang dikemukakan adalah agar orang tua yang bekerja tidak perlu repot-repot memikirkan dan mengawasi anak.

Sepintas, alasan itu seperti benar. Khususnya bagi para orang tua yang sibuk bekerja sampai sehari penuh. Namun di sisi lain perlu diingat bahwa tidak semua orang tua di negeri ini bekerja di sektor formal dan dengan jam kerja dari pagi hingga petang. Pernyataan Menteri tentang alasan kondisi keluarga yang bekerja menjadi tidak logis dan tidak relevan, karena masing-masing keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Oleh karena itu, hendaknya tidak ada penyamarataan bahwa sekolah sehari penuh itu bisa menyelesaikan masalah secara komprehensif terkait dengan kenakalan anak di luar jam sekolah dan masalah kesibukan orang tua.

Masih banyak orang tua yang salah satunya tidak bekerja, misalnya ibu yang menjadi ibu rumah tangga, atau ayah yang berhalangan untuk bekerja. Tentu saja ibu rumah tangga ini akan selalu ada di rumah, terlepas dari segala kesibukan seorang ibu rumah tangga, apakah sambil berdagang atau tidak. Ada juga tren lain yang kian populer saat ini, yaitu orang tua yang mencari nafkah dengan cara bekerja di rumah. Pekerjaan yang datang ke rumah. Bukan lagi pergi pagi pulang petang demi sesuap nasi. Orang tua yang seperti ini tentu punya lebih banyak kesempatan untuk bercengkerama bersama anak-anak mereka, sambil juga tetap memberikan perhatian penuh pada pekerjaannya.

Permasalahan lain juga muncul dalam hal ketidakseragaman lingkungan belajar di seluruh Indonesia. Konsep sekolah sehari penuh mungkin saja cocok diterapkan di beberapa sekolah perkotaan yang tingkat kesibukan kedua orang tuanya memang sangat tinggi. Dan mungkin cocok juga di sekolah berasrama yang semua kegiatan siswa dapat dipantau selama 24 jam dan memiliki fasilitas asrama serta pengasuh asrama. Tapi, apakah setiap kota dan kabupaten di Indonesia sudah seperti itu sarana dan prasarananya? Masih jauh. Hanya segelintir sekolah yang saat ini sudah sanggup menyelenggarakan sekolah sehari penuh tanpa menunggu instruksi kementerian. Itupun direncanakan secara matang dan tidak benar-benar sehari penuh. Kebanyakan tetap pulang sekolah sekitar pukul 14.00-15.00, dengan diselingi banyak istirahat untuk memberi kesempatan agar otak siswa tidak ngebul.

Alasan soal tawuran pun rasanya lebih banyak ngawurnya daripada benarnya. Tidak rasional. Coba saja perhatikan pemberitaan soal tawuran anak sekolah. Di kota/kabupaten mana, anak sekolah mana saja yang hobi tawuran itu? Sepengamatan saya, aksi tawuran anak sekolahan dilakukan oleh sebagian kecil saja siswa di Indonesia. Mayoritas tidak pernah tawuran. Bahkan tidak sempat terpikir untuk tawuran. Karena pulang sekolah pun pikiran mereka sudah langsung terbebani oleh tumpukan PR yang harus dikerjakan di rumah. Jadi jika alasannya untuk mencegah tawuran, maka itu hanya jadi solusi parsial bagi sekolah tertentu yang memang punya riwayat tawuran yang akut.

Di negeri ini, masih banyak persoalan pendidikan yang lebih urgen untuk segera diperbaiki, alih-alih malah mendorong kebijakan sekolah sehari penuh yang terkesan dipaksakan.

Saat ini, masih banyak anak sekolah di daerah pedalaman yang harus menempuh jarak ke sekolah sampai 5-10 kilometer (atau lebih) dan menghabiskan waktu sampai tiga jam. Tanpa program sekolah sehari penuh pun, anak-anak itu akan sampai ke rumah masing-masing paling cepat sore hari. Dan itu bukan karena mereka tawuran sepulang sekolah. Tapi karena jarak rumah dan sekolahnya sangat jauh. Terbayang, jika agenda sekolah sehari penuh itu benar-benar dilaksanakan, maka anak-anak itu akan pulang ke rumah malam hari. Kapan mau mengerjakan PR dan berinteraksi dengan teman-teman sekitar, juga dengan orang tuanya? Karena besok subuh pun sudah harus siap-siap berangkat ke sekolah lagi. Bagi mereka, sekolah sehari penuh itu justru akan menambah berat beban yang sudah berat. Bisa-bisa mereka jadi harus pergi subuh pulang tengah malam.

Kebhinekaan negeri ini tidak hanya terpancar dalam hal kesukuan dan keagamaan. Dalam hal pekerjaan dan kondisi ekonomi, keberagaman itu nyata adanya. Orang tua dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, banyak di antaranya yang meminta anaknya membantu mereka bekerja, tentu setelah sang anak pulang sekolah. Ada anak yang diajarkan oleh orang tuanya berbisnis dengan menjaga toko atau warung, berkebun di ladang, menangkap ikan di laut atau tambak, dan menggembala sapi di sawah. Ada juga yang menghabiskan sore hari bermain bersama teman-teman sebayanya di sekitar rumah. Penyeragaman konsep sekolah sehari penuh tidak akan efektif karena suasana, sarana-prasarana dan kebutuhan setiap keluarga itu berbeda.

Seperti apakah kondisi sarana dan prasarana fisik sekolah-sekolah di Indonesia? Apakah setiap sekolah sudah sebegitu nyamannya untuk didiami seharian penuh? Bukankah masih banyak sekolah yang atapnya sudah roboh, temboknya sudah miring-miring, sekolahnya libur jika hujan karena pasti kebanjiran, dan segala derita sekolah yang kondisi fisik bangunannya serba kekurangan. Di sekolah-sekolah seperti itu, sekolah setengah hari saja rasanya sudah penuh siksaan dan ingin cepat-cepat bunyi bel pulang berdentang, apalagi kalau harus seharian penuh. Bisa-bisa mereka pingsan berjamaah di sekolah.

Kalau mau sekolah sehari penuh, apakah ada kantin sehat gratis di sekolah? Kondisi ekonomi setiap anak tidak sama. Bagi yang punya uang banyak, gampang saja tinggal jajan atau beli makanan apa pun yang disukai. Bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, mereka mau makan apa? Kecuali pihak sekolah bersedia menyediakan bekal makan siang gratis atau jajanan untuk siswa sampai sore hari.

Selain lingkungan fisik sekolah yang menyenangkan, keberadaan guru yang kreatif dan interaktif juga sangat krusial. Padahal kenyataannya, sangat sedikit guru dan lingkungan sekolah yang mampu memotivasi siswa agar betah berlama-lama di sekolah. Coba saja perhatikan jika ada pengumuman rapat guru, para siswa akan sangat senang karena tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Ini indikasi bahwa sebagian besar kegiatan belajar-mengajar itu menjemukan, tidak menarik bagi siswa. Sehingga mereka lebih suka gurunya rajin rapat daripada rajin mengajar.

Bukan hanya bagi siswa. Penderitaan sekolah sehari penuh juga pastinya akan dirasakan oleh para guru. Guru pun akan ikut-ikutan pulang sore, dan mungkin sebagian lagi sampai ke rumah pada malam hari. Di rumah, mereka sibuk urusan rumah tangga, dan pasti sulit mempersiapkan materi pelajaran esok hari, karena pagi-pagi sudah harus berangkat ke sekolah lagi. Lalu kapan ada waktu bagi mereka untuk memeriksa dan memberikan umpan balik bermutu pada tugas yang dikerjakan siswa?

Tentu saja, secara konsep, sekolah sehari penuh ini tidak salah-salah amat. Hanya situasi dan kondisi di Indonesia saja yang, menurut hemat saya, belum memungkinkan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Sebaiknya, seseorang selevel menteri melakukan kajian mendalam, untuk mempelajari konsep sekolah sehari penuh itu beserta segala prasarat dan faktor-faktor pendukungnya. Masalah fisik sekolah, sarana-prasarana pendidikan, ketersediaan dan kecakapan guru, konsep pembagian waktu belajar dan waktu istirahat selama di sekolah, pembelajaran yang atraktif dan dinamis, semua itu seharusnya menjadi PR Bapak Menteri, sebelum bicara ke publik dengan gagasan yang masih mentah.

Saya rasa kita semua akan setuju bahwa sekolah tidak boleh menjauhkan anak dari orang tua. Jadi kalau mau sekolah sehari penuh pun, harus dipikirkan bagaimana caranya agar orang tua tetap terlibat dalam upaya mendidik dan membina anak-anaknya. Jangan ada kesan bahwa sekolah adalah tempat penitipan anak.

Tahun lalu saya berkesempatan untuk mampir ke Bappenas dan menyimak paparan Bappenas tentang agenda pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 Bidang Pendidikan. Dalam dokumen yang merupakan turunan dari visi Nawacita Presiden Jokowi itu, ada sepuluh langkah strategis yang perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

  1. Pelaksanaan Program Indonesia Pintar melalui Wajib Belajar 12 Tahun
  2. Peningkatan Kualitas Pembelajaran
  3. Peningkatan Manajemen Guru, Pendidikan Keguruan, dan Reformasi LPTK
  4. Peningkatan Akses, Kualitas, Relevansi dan Daya Saing Pendidikan Tinggi
  5. Peningkatan Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini
  6. Peningkatan Keterampilan Kerja dan Penguatan Pendidikan Orang Dewasa
  7. Peningkatan Pendidikan Keagamaan
  8. Peningkatan Pendidikan Agama, Pendidikan Kewargaan dan Pendidikan Karakter untuk Mendukung Revolusi Mental
  9. Peningkatan Efisiensi Pembiayaan Pendidikan
  10. Peningkatan Tata Kelola Pendidikan.

Saya pikir, ini konsep yang sangat bagus. Tantangannya biasanya di sektor implementasi (seperti biasa). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebaiknya memfokuskan segala daya upaya, menggerakkan seluruh elemen pendidikan agar bekerja dengan rapi dan giat untuk merealisasikan cita-cita dalam sepuluh rencana strategis di atas. Itu jauh lebih bermakna dan bermanfaat ketimbang mendorong pelaksanaan sekolah sehari penuh secara nasional. Dan jika semua itu benar-benar terwujud (sulit sih, tapi pasti bisa), saya yakin tidak akan ada lagi kasus-kasus kekerasan di sekolah, baik itu yang dilakukan oleh guru maupun yang menimpa pada guru.

Koleksi Istilah Teknologi Informasi dari Microsoft

Jika Anda seorang penerjemah yang pernah (atau terbiasa) menerjemahkan bidang teknologi informasi, khususnya komputer, aplikasi komputer, dan Internet, kemungkinan besar Anda pernah mendapat instruksi khusus dari Project Manager (PM) agar menggunakan Microsoft Terminology Collection yang tersedia bebas di Microsoft Language Portal.

Microsoft Language Portal adalah portal pencarian dwibahasa untuk mencari terjemahan istilah penting khas Microsoft dan terminologi bidang TI secara umum. Portal ini dibuat dengan maksud agar pengguna dan mitra internasional Microsoft tahu istilah khas yang Microsoft gunakan untuk kepentingan pengglobalan (globalization), pelokalan (localization), penulisan (authoring), dan pencarian secara umum.

Portal ini berisi sekitar 25.000 istilah lengkap dengan definisinya, dan sudah diterjemahkan ke hampir 100 bahasa, juga berisi terjemahan perangkat lunak untuk produk-produk dari Microsoft, seperti Windows, Office, SQL Server, dan banyak lagi.

Microsoft Terminologi Collection dapat digunakan untuk mengembangkan versi lokal dari aplikasi yang terintegrasi dengan produk Microsoft. Selain itu, juga dapat digunakan untuk mengintegrasikan terminologi Microsoft ke dalam koleksi terminologi lain atau difungsikan sebagai istilah dasar TI untuk pengembangan bahasa di hampir 100 bahasa yang tersedia.

Karena ada keharusan untuk merujuk ke Microsoft Portal Language, biasanya kita harus membuka portal tersebut di salah satu tab pada peramban web yang digunakan. Itu yang saya lakukan, sebelum saya tahu bahwa terminologi ini disediakan dalam format .tbx, yang merupakan standar industri untuk pertukaran terminologi. Setelah tahu bahwa terminologi ini tersedia dalam format .tbx, dan saya ingat bahwa SDL Multiterm bisa membaca format .txb, maka saya segera mengunduh koleksi istilah Microsoft tersebut dan mengolahnya menjadi berkas Termbase agar lebih mudah untuk digunakan saat bekerja dengan SDL Trados Studio 2011/2014/2015.

Jika Anda merasa perlu untuk memiliki termbase ini, baik untuk menggunakannya dalam proyek penerjemahan yang relevan atau untuk alasan lain, Anda dapat mengunduhnya di tautan unduhan yang tersedia di bawah. Jika Anda mengalami masalah dalam penggunaannya, atau ada kendala dengan SDL Trados Studio yang Anda gunakan, silakan sampaikan kendalanya di kolom komentar.

Unduh
Microsoft Terminology Collection English – Indonesian.

Catatan
This glossary is an as-is extract from the Microsoft Language Portal. © 2016 Microsoft Corporation. All rights reserved.