Kembali Ke Kampus

Setelah dua bulan menikmati liburan, akhirnya saya dan teman-teman sekelas harus kembali masuk kelas. Kuliah pra-konsentrasi Magister Manajemen Pendidikan semester kedua di kampus Universitas Islam Nusantara bagi angkatan XXXIX resmi dimulai per hari Jumat, tanggal 15 Januari 2016.

Di semester kedua ini, ada lima matakuliah yang akan dijalani, dan dicoba dinikmati. Berikut ini nama-nama matakuliahnya.

  1. Seminar Masalah-Masalah Aktual Pendidikan
  2. Manajemen Kurikulum dan Penilaian
  3. Globalisasi dan Standardisasi Pendidikan
  4. Manajemen Organisasi, Personel dan Kepemimpinan
  5. Manajemen Sistem Pembelajaran

Sebetulnya nama-nama matakuliahnya tidak persis seperti di atas. Yang ditulis di sini sudah saya sunting. Rupanya sikap mental seorang penerjemah dan penyunting memang suka gatal kalau menemukan kata yang tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. hehehe…

Melihat nama-nama matakuliah itu, sepertinya ini akan menjadi babak kedua dari perjuangan saya untuk bisa memahami masalah-masalah yang diangkat dalam perkuliahan. Sama seperti di Semester 1.

Secara umum, mereka yang berkuliah di UNINUS, khususnya di program pascasarjana, adalah orang-orang yang bekerja di bidang pendidikan. Kebanyakan adalah guru, baik guru SD, SMP, SMA dan sederajatnya, juga ada kepala sekolah dan pengawas. Artinya, kebanyakan dari mereka sudah sangat paham dengan materi-materi kuliah, minimal dari tataran praktis pengalaman di lapangan. Bisa jadi mereka sebetulnya lebih ahli, hanya saja mereka belum mendapat ijazah yang meresmikan keahlian mereka.

Beda ceritanya dengan saya. Dulu saya kuliah S1 di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (IKIP Bandung), yang saat saya tingkat dua (1999) berubah nama jadi Universitas Pendidikan Indonesia. Sebagai mahasiswa program Pendidikan Bahasa Inggris, sudah pasti saya mengikuti aneka perkuliahan bertema pendidikan juga. Gelar akademiknya pun Sarjana Pendidikan alias S.Pd. Untuk beberapa tahun, saya juga mengajar di tingkat S1 di beberapa kampus, selain menjadi tutor di beberapa kelompok belajar (Pokjar) di Universitas Terbuka. Tapi, pekerjaan utama, resmi dan profesional saya adalah penerjemah. Jadi saya belum pernah mengalami sendiri dan secara langsung dinamika dunia pendidikan dari sisi sistem dan manajemennya di lembaga pendidikan, kecuali sebagai pendidik/pengajar di kelas.

Perbedaan dalam hal latar belakang pekerjaan ini cukup berpengaruh juga ke kemampuan daya serap materi kuliah yang disampaikan oleh dosen. Mereka yang sehari-hari berkecimpung di dunia pendidikan, sudah pasti lebih cepat mencerna setiap materi yang dipaparkan oleh dosen. Sementara saya lebih banyak bengong, karena merasa asing dengan banyak hal yang disampaikan oleh dosen. Isu-isu globalnya saya paham. Tapi kalau sudah menyangkut isu-isu di tataran praktis lembaga pendidikan, saya biasanya melongo saja. hahaha…

Pada akhirnya modal saya ya bismillah saja. Semoga saja saya diberi kemudahan untuk menyerap dan mencerna ilmu yang disampaikan oleh dosen dan rekan-rekan mahasiswa.