Perjalanan dan Modal Saya Jadi Penerjemah Profesional

Meski sama-sama berprofesi sebagai penerjemah, biasanya setiap orang punya latar belakang dan jalan masing-masing yang mengantarnya jadi penerjemah. Coba saja baca buku Tersesat Membawa Nikmat, sebuah buku bunga rampai pengalaman anggota milis Bahtera dalam menapaki karier sebagai penerjemah dan juru bahasa. Jika ditanya apa sebabnya saya jadi penerjemah, maka jawaban saya adalah bakat, alias bakat ku butuh (Bahasa Sunda yang artinya saking butuhnya).

Saya masuk kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Bandung (lalu berubah nama jadi Universitas Pendidikan Indonesia) pada tahun 1998. Menginjak tahun kedua, sekitar tahun 2000, saya mulai mengerjakan pekerjaan terjemahan, dengan membantu kakak-kakak senior. Kliennya dari dalam kampus, mulai dari sesama mahasiswa S1 hingga mahasiswa S2 dan S3 yang perlu menerjemahkan materi atau tugas perkuliahan. Waktu itu, mendapat bayaran Rp3.000-5.000 per halaman hasil saja rasanya sudah girang sekali. Untuk seorang anak kos saat itu, penghasilan dari menerjemahkan 10 halaman sehari saja sudah cukup jadi bekal untuk makan sehari.

Saat itu juga ada sebuah biro terjemahan sederhana di Gegerkalong yang memasang pamflet lowongan kerja. Saya melamar dan diterima jadi “editor”, katanya. Ternyata, pekerjaan saya adalah mengedit hasil terjemahan dengan alat bernama Transtool. Bayaran saya waktu itu hanya Rp1.000 per halaman yang diedit. Itu sekaligus perkenalan pertama saya dengan Transtool. Meski deskripsi tugasnya adalah mengedit, faktanya saya lebih sering menerjemahkan ulang, karena rendahnya kualitas terjemahan oleh Transtool.

Merasa percaya diri karena sering menerjemahkan artikel jurnal, makalah, dan buku yang digunakan untuk perkuliahan, saya memberanikan diri untuk mengirim lamaran menjadi penerjemah lepas ke berbagai penerbit. Saya punya koleksi buku di kosan. Saya catat nama dan alamat penerbit. Saya kirim lamaran. Sesederhana dan senekad itulah saya waktu itu, sekitar tahun 2003.

Pada tahun 2003 itu pula saya berhasil menulis buku dan diterbitkan oleh sebuah penerbit di Bogor. Buku karya saya sendiri. Cara menulisnya sebenarnya lebih banyak diawali oleh menerjemahkan berbagai artikel dan buku yang memiliki kesamaan tema, lalu setiap gagasan dan kutipan itu dikumpulkan dan disusun dalam urutan ide yang mengalir, sambung-menyambung sehingga menjadi satu naskah buku. Saya tawarkan ke beberapa penerbit. Ada satu penerbit yang menyambut baik. Transaksi jual putus naskah pun terjadi. Selesai. Buku itu terbit. Uang pertama hasil menulis saya kantongi. Bangganya bukan main. Maklum, saat itu saya masih jadi mahasiswa, dan saya pernah bertekad: tidak mau lulus kuliah sebelum bisa menulis buku yang diterbitkan oleh penerbit resmi dan ada ISBN-nya. Cita-cita yang aneh mungkin ya, tapi alhamdulillah tercapai juga.

Pada tahun 2004, buku terjemahan pertama saya terbit. Sama seperti buku karya pribadi, buku terjemahan ini juga diterbitkan oleh penerbit di Bogor, tapi beda penerbit. Sejak saat itu, hari-hari saya padat diisi oleh kegiatan kuliah, menerjemahkan buku, menulis dan mengedit buku ajar bahasa Inggris untuk SD, SMP, SMA/SMK. Memang tidak terlalu banyak, tapi rasanya cukup banyak untuk ukuran mahasiswa yang belum lulus S1. Sejak 2003 hingga 2013, total ada 11 buku pelajaran yang saya tulis bersama teman-teman penulis, dan ada 27 buku terjemahan yang semuanya diterbitkan oleh penerbit resmi dan ber-ISBN. Tarif saya untuk menerjemahkan buku pada saat itu berkisar antara Rp10.000-15.000 per halaman hasil.

Selain buku, saat itu saya juga rutin menerjemahkan untuk edisi bahasa Indonesia dari sebuah majalah filantropi global yang terbit setiap bulan. Untuk majalah ini, saya mendapat bayaran Rp30.000 per halaman hasil.

Baru tahun 2011 saya menginjakkan kaki ke pasar penerjemahan non-buku dan non-majalah. Itu terjadi ketika saya mulai lebih aktif di milis Bahtera, setelah sekian lama jadi pembaca diam (silent reader), dan menjadi anggota Himpunan Penerjemah Indonesia. Di sini saya merasakan ada lompatan karier yang luar biasa, terutama dalam hal variasi pekerjaan penerjemahan dan tarifnya. Pada tahun yang sama, saya memoles profil saya di Proz dan menjadi anggota berbayar, setelah sejak 2007 hanya jadi anggota non-berbayar. Saat itulah saya mulai mengenal proyek-proyek penerjemahan non-buku, pelokalan (localization) situs web, aplikasi seluler, aplikasi komputer, dan sebagainya, yang dulu tidak terbayangkan akan saya kerjakan. Bahkan dulu saya tidak terpikir sama sekali bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah bagian dari industri terjemahan global. Saya merasa bersyukur sekali bisa bergabung dengan milis Bahtera dan HPI. Pergaulan dan wawasan terasa semakin luas, ilmu juga bertambah, pekerjaan penerjemahan semakin variatif, dan honor juga jauh meningkat jadi USD0.05 atau Rp500 per kata sumber.

Jika ditanya, apa modal saya untuk jadi penerjemah? Saya mungkin akan menyoroti 5 hal ini:

  1. kemampuan berbahasa Inggris,
  2. kemampuan berbahasa Indonesia,
  3. kebiasaan membaca,
  4. keterampilan komputer (perangkat keras dan perangkat lunak),
  5. kebiasaan meriset.

Bisa berbahasa Inggris saja tidak cukup membuat seseorang bisa menerjemahkan. Harus ada penguasaan bahasa Indonesia yang baik untuk membuat seseorang mampu menerjemahkan dengan baik. Hal ini karena menerjemahkan bukanlah sekadar mengganti kata per kata dalam bahasa sumber dengan kata per kata dalam bahasa target. Penguasaan bahasa Inggris yang baik diperlukan untuk menangkap maksud penulis dalam bahasa sumber. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik diperlukan untuk menyampaikan kembali maksud penulis bahasa sumber itu ke dalam bahasa target sesuai dengan kaidah bahasa target.

Penguasaan bahasa Indonesia yang baik biasanya muncul dengan sendirinya jika kita sudah memiliki kebiasaan membaca yang baik. Alhamdulillah, saya dibesarkan dalam keluarga yang memiliki budaya baca yang baik, menurut ukuran zaman saya kecil saat itu. Saya anak ketujuh dari delapan bersaudara. Sejak kecil saya sudah terbiasa membaca karena di rumah ada koran Pikiran Rakyat, Kompas, tabloid Bola, majalah Tempo, Bobo, Siswa, Kawanku, Gadis, Femina, dan majalah Hai. Selain koran dan majalah, buku-buku seperti Lima Sekawan, Trio Detektif, Wiro Sableng, Lupus, Agatha Christie, dan lain-lain juga ada di rumah dan menjadi buku-buku yang langganan dibaca. Saya percaya bahwa kebiasaan membaca sejak kecil membantu seseorang menguasai tata bahasa dan membantu keterampilan menulis.

Keterampilan komputer saya peroleh dari kebiasaan membaca majalah dan tabloid komputer seperti (saat itu) PC Media, PC Plus, dan Chip. Untuk kebiasaan ngoprek dan ngulik, saya terbantu oleh kebiasaan nongkrong di rental komputer yang biasanya juga membuka layanan perbaikan komputer. Memperhatikan dan membantu teknisi komputer bekerja, ditambah pengetahuan hasil bacaan, secara kumulatif membentuk pemahaman saya tentang komputer, baik untuk perangkat keras maupun perangkat lunak. Saya merasa ini sangat membantu ketika saya masuk ke pasar terjemahan global, khususnya ketika saya harus menggunakan CAT Tool seperti Trados, SDL Trados Studio, SDLX, WordFast, MemoQ, dan lain-lain. Ini juga membantu dalam proyek-proyek pelokalan perangkat lunak dan aplikasi seluler.

Kebiasaan meriset saya tumbuh karena ada kebiasaan membaca. Saya jadi selalu penasaran jika ada hal yang belum saya tahu. Saya selalu ingin tahu, tapi bukan ingin tahu urusan orang alias kepo itu ya. Saya serba ingin tahu untuk hal-hal yang bersifat keilmuan, pengetahuan, dan wawasan. Kalau ada hal yang saya belum tahu, bisa dipastikan saya akan mencari tahu, meski itu secara diam-diam, dan hasilnya pun tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain. Sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu pribadi saja rasanya sudah cukup bagi saya. Dalam praktik penerjemahan, kebiasaan meriset ini sangat penting dan sangat diperlukan untuk menghasilkan terjemahan dengan kualitas yang baik.

Begitulah cara saya menjadi penerjemah. Ini bukan satu-satunya cara, tentu saja. Anda pun mungkin punya cara dan perjalanan karier yang berbeda. Semoga ini juga bisa menjawab pertanyaan sebagian teman-teman yang ingin memulai karier jadi penerjemah tapi masih bingung harus memulai dari mana.